Selasa, 28 Desember 2010

PENGUMPULAN AL-QUR'AN

Assalamu'alaikum
Pak Ustadz, Ada 3 yang
akan saya tanyakan.
1. Apa alasan Khalifah
Usman membakar
beberapa mushaf Al Qur'a
sebelum membuat
Mushaf al Qur'an yang
baru?
2. Tolong jelaskan kata
"Kami' dalam ayat-ayat
Al Qur'an..
3. Asbabunuzul Surah Al
Fatihah, sebab surah
tersebut berisi do'a,
banyak yang mengatakan
kalau surah tersebut
adalah do'a Nabi
Muhammad bukan
merupakan firman Allah
Jazakallah atas
penjelasannya..
31 Agustus jam 14:28 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam waalaikum salam
wr,wb.
1.Mushaf Al Quran yang
ada di tangan kita
sekarang ternyata telah
melalui perjalanan
panjang yang berliku-liku
selama kurun waktu lebih
dari 1400 tahun yang
silam dan mempunyai
latar belakang sejarah
yang menarik untuk
diketahui. Selain itu
jaminan atas keotentikan
Al Quran langsung
diberikan oleh Allah SWT
yang termaktub dalam
firman-Nya QS.AL Hijr -
(15):9: “Sesungguhnya
Kamilah yang
menurunkan adz-Dzikr (Al
Quran), dan kamilah yang
akan menjaganya ”..
Pada permulaan Islam,
kebanyakan orang
bangsa Arab Islam adalah
bangsa yang buta huruf,
sangat sedikit di antara
mereka yang tahu
menulis dan membaca.
Mereka belum mengenal
kertas seperti kertas
yang ada sekarang.
Perkataan “al
waraq” (daun) yang
digunakan dalam
mengatakan kertas pada
masa itu hanyalah pada
daun kayu saja. Kata “al
qirthas” digunakan oleh
mereka hanya merujuk
kepada benda-benda
(bahan-bahan) yang
mereka pergunakan
untuk ditulis seperti kulit
binatang, batu yang tipis
dan licin, pelepah tamar/
kurma, tulang binatang
dan sebagainya.
Setelah mereka
menaklukkan negeri
Persia, yaitu sesudah
wafatnya Nabi
Muhammad SAW barulah
mereka mengenal kertas.
Orang Persia menamakan
kertas itu sebagai
“ kaqhid”. Maka
digunakan kata itu untuk
kertas oleh bangsa Arab
Islam semenjak itu.
Sebelum Nabi Muhammad
atau semasa zaman Nabi
Muhammad kata
“kaqhid” itu tidak ada
digunakan di dalam
bahasa Arab, atau pun
dalam hadis-hadis Nabi.
Kemudian kata “al
qirthas” digunakan pula
oleh bangsa Arab Islam
ini kepada apa yang
dinamakan “kaqhid”
dalam bahasa Persia itu.
Kitab atau buku tentang
apapun juga belum ada
pada mereka. Kata-kata
“ kitab” di masa itu
hanyalah bermaksud
dalam bentuk seperti
sepotong kulit, batu atau
tulang dan sebagainya.
Begitu juga dalam arti
kata surat seperti pada
ayat 28 dari surah An
Naml di bawah.
“ Pergilah dengan surat
saya ini, maka
jatuhkanlah dia kepada
mereka.. ”
Begitu juga
“ kutub” (jama kitab)
yang dikirimkan oleh
Nabi Muhammad SAW
kepada raja-raja di
masanya untuk menyeru
mereka kepada Islam.
Walaupun kebanyakkan
bangsa Arab Islam pada
masa itu masih buta
huruf, namun mereka
mempunyai ingatan yang
sangat kuat. Pegangan
mereka dalam
memelihara dan
meriwayatkan syair-syair
dari pujangga-pujangga
dan penyair-penyair
mereka, ansab (silsilah
keturunan) mereka,
peperangan-peperangan
yang terjadi di antara
mereka, peristiwa-
peristiwa yang terjadi
dalam masyarakat dan
kehidupan mereka tiap
hari dan lain-lain
sebagainya, adalah
kepada hafalan semata-
mata. Demikianlah
keadaan bangsa Arab di
waktu kedatangan Islam
itu. Maka dijalankan oleh
Nabi Muhammad SAW
suatu cara yang amali
(praktis) yang selaras
dengan keadaan itu
dalam menyiarkan Al
Quran dan
memeliharanya. Tiap-tiap
diturunkan ayat-ayat itu,
Nabi Muhammad SAW
menyuruh menghafalnya
dan menuliskannya di
batu, kulit binatang,
pelepah tamar dan apa
saja yang bisa disusun
dalam sesuatu surat. Nabi
Muhammad
menerangkan tertib urut
ayat-ayat itu. Nabi
Muhammad mengadakan
peraturan, yaitu Al Quran
sajalah yang boleh
dituliskan. Selain
daripada Al Quran, Hadis-
hadis atau pelajaran-
pelajaran yang mereka
dengar dari mulut Nabi
Muhammad dilarang
menuliskannya. Larangan
ini bermaksud supaya Al
Quran itu terpelihara,
jangan campur aduk
dengan yang lain-lain
yang juga didengar dari
Nabi Muhammad.
Nabi menganjurkan
supaya Al Quran itu
dihafal, selalu dibaca dan
diwajibkannya
membacanya dalam solat.
Maka dengan itu
banyaklah orang yang
hafal Al Quran. Surah
yang satu dihafal oleh
ribuan manusia dan
banyak yang hafal
seluruh Al Quran. Dalam
pada itu tidak ada satu
ayatpun yang tidak
dituliskan. Kepandaian
menulis dan membaca itu
amat dihargai dan
dianjurkan oleh Nabi
Muhammad sehingga
baginda bersabda, “Di
akhirat nanti tinta
ulama-ulama itu akan
ditimbang dengan darah
syuhada (orang-orang
yang mati syahid )” Hal ini
menunjukkan bahwa
beliau ridho akan
penulisan selain Al-Qur’an
setelah beliau wafat.
Maka tidaklah mengapa
penulisan Hadits, ilmu
fiqih, dan penulisan ilmu-
ilmu lainnya setelah
beliau SAW wafat.
Dalam peperangan Badar,
orang-orang musyrikin
yang ditawan oleh orang-
orang Islam, yang tidak
mampu menebus dirinya
dengan uang, tetapi
mempunyai pengetahuan
dalam menulis dan
membaca, masing-masing
diharuskan mengajar
sepuluh orang Muslim
agar dapat menulis dan
membaca sebagai ganti
tebusan. Di dalam Al
Quran pun banyak ayat-
ayat yang mengutarakan
penghargaan yang tinggi
terhadap huruf, pena dan
tulisan. Contohnya
seperti ayat di bawah,
“ Nun, demi pena dan apa
yang mereka
tuliskan. ” (QS. Al-Qalam:
1)
“ Bacalah, dan Tuhanmu
amat mulia. Yang telah
mengajar dengan pena.
Dia telah mengajarkan
kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya. ” (QS.
Al-’Alaq: 3, 4 dan 5)
Karena itu bertambahlah
keinginan untuk belajar
menulis dan membaca di
kalangan orang-orang
muslim, dan semakin
bertambah banyaklah di
antara mereka yang
pandai menulis dan
membaca dan semakin
banyaklah orang yang
menuliskan ayat-ayat
yang telah diturunkan
itu. Nabi Muhammad
sendiri mempunyai
beberapa orang penulis
yang bertugas
menuliskan Al Quran
untuk baginda. Penulis-
penulis beliau yang
terkenal ialah Ali bin Abi
Thalib, Utsman bin Affan,
Ubay bin Ka ’ab, Zaid bin
Tsabit dan Mu’awiyah.
Shahabat yang terbanyak
menuliskannya ialah Zaid
bin Tsabit.
Dengan demikian, di
zaman Nabi Muhammad,
terdapat 3 unsur yang
tolong-menolong
memelihara Al Quran
yang telah diturunkan
itu:
1. Hafalan dari mereka
yang hafal Al-Quran.
2. Naskah-naskah Al-
Qur ’an yang ditulis atas
perintah Nabi
Muhammad.
3. Naskah-naskah yang
ditulis oleh mereka yang
pandai menulis dan
membaca untuk mereka
masing-masing.
Dalam pada itu, oleh Jibril
diadakan ulangan bacaan
sekali setahun. Di dalam
ulangan bacaan itu, Nabi
Muhammad disuruh
mengulang
memperdengarkan Al
Quran yang telah
diturunkan itu. Di tahun
baginda wafat, ulangan
bacaan itu diadakan oleh
Jibril dua kali. Nabi
Muhammad sendiri pun
sering pula mengadakan
ulangan bacaan itu
terhadap sahabat-
sahabatnya. Maka
sahabat-sahabat itu
disuruh oleh Nabi
Muhammad membacakan
atau memperdengarkan
Al Quran itu di
hadapannya. Ini untuk
menetapkan atau
memperbetulkan hafalan
atau bacaan mereka.
Ketika Nabi Muhammad
wafat, Al Quran itu telah
sempurna diturunkan dan
telah dihafal oleh ribuan
manusia, dan telah
dituliskan semua ayat-
ayatnya. Ayat-ayat dan
surah-surahnya telah
disusun menurut tertib
urut yang dipertunjukkan
sendiri oleh Nabi
Muhammad SAW. Mereka
telah mendengar Al
Quran itu dari mulut Nabi
Muhammad berkali-kali,
dalam solat, dalam
pidato-pidato baginda,
dalam pelajaran-
pelajaran dan lain-lain,
sebagaimana Nabi
Muhammad SAW sendiri
telah mendengar pula
dari mereka. Dalam
makna lain, Al Quran
adalah dijaga dan
terpelihara dengan baik,
dan Nabi Muhammad
telah mengadakan satu
kaidah yang amat praktis
untuk memelihara dan
menyiarkan Al Quran itu,
sesuai dengan keadaan
bangsa Arab Islam ketika
itu.
Al-Quran pada jaman
Rasulullah SAW.
Pengumpulan Al Quran
pada zaman Rasulullah
SAW ditempuh dengan
dua cara:
Pertama : al Jam’u fis
Sudur
Para sahabat langsung
menghafalnya diluar
kepala setiap kali
Rasulullah SAW menerima
wahyu. Hal ini bisa
dilakukan oleh mereka
dengan mudah terkait
dengan kultur (budaya)
orang arab yang menjaga
Turast (peninggalan
nenek moyang mereka
diantaranya berupa syair
atau cerita) dengan
media hafalan dan
mereka sangat masyhur
dengan kekuatan daya
hafalannya.
03 September jam 20:04 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam Kedua : al Jam’u fis
Suthur
Yaitu wahyu turun
kepada Rasulullah SAW
ketika beliau berumur 40
tahun yaitu 12 tahun
sebelum hijrah ke
madinah. Kemudian
wahyu terus menerus
turun selama kurun
waktu 23 tahun
berikutnya dimana
Rasulullah. SAW setiap
kali turun wahyu
kepadanya selalu
membacakannya kepada
para sahabat secara
langsung dan menyuruh
mereka untuk
menuliskannya sembari
melarang para sahabat
untuk menulis hadis-hadis
beliau karena khawatir
akan bercampur dengan
Al Quran. Rasul SAW
bersabda “Janganlah
kalian menulis sesuatu
dariku kecuali Al Quran,
barangsiapa yang menulis
sesuatu dariku selain Al
Quran maka hendaklah ia
menghapusnya ” (Hadist
dikeluarkan oleh Muslim
(pada Bab Zuhud hal dan
Ahmad (hal 1).
Biasanya sahabat
menuliskan Al Quran
pada media yang
terdapat pada waktu itu
berupa ar-Riqa ’ (kulit
binatang), al-Likhaf
(lempengan batu), al-
Aktaf (tulang binatang),
al-`Usbu ( pelepah
kurma). Sedangkan
jumlah sahabat yang
menulis Al Quran waktu
itu mencapai 40 orang.
Adapun hadis yang
menguatkan bahwa
penulisan Al Quran telah
terjadi pada masa
Rasulullah s.a.w. adalah
hadis yang di Takhrij
(dikeluarkan) oleh al-
Hakim dengan sanadnya
yang bersambung pada
Anas r.a., ia berkata:
“Suatu saat kita bersama
Rasulullah s.a.w. dan kita
menulis Al Quran
(mengumpulkan) pada
kulit binatang “.
Dari kebiasaan menulis Al
Quran ini menyebabkan
banyaknya naskah-
naskah (manuskrip) yang
dimiliki oleh masing-
masing penulis wahyu,
diantaranya yang
terkenal adalah: Ubay bin
Ka ’ab, Abdullah bin
Mas’ud, Mu’adz bin Jabal,
Zaid bin Tsabit dan Salin
bin Ma ’qal.
Adapun hal-hal yang lain
yang bisa menguatkan
bahwa telah terjadi
penulisan Al Quran pada
waktu itu adalah
Rasulullah SAW melarang
membawa tulisan Al
Quran ke wilayah musuh.
Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Janganlah
kalian membawa catatan
Al Quran ke wilayah
musuh, karena aku
merasa tidak aman
(khawatir) apabila
catatan Al Quran
tersebut jatuh ke tangan
mereka ”.
Kisah masuk islamnya
sahabat `Umar bin
Khattab r.a. yang
disebutkan dalam buku-
bukus sejarah bahwa
waktu itu `Umar
mendengar saudara
perempuannya yang
bernama Fatimah sedang
membaca awal surah
Thaha dari sebuah
catatan (manuskrip) Al
Quran kemudian `Umar
mendengar, meraihnya
kemudian memba-canya,
inilah yang menjadi sebab
ia mendapat hidayah dari
Allah sehingga ia masuk
islam.
Sepanjang hidup
Rasulullah s.a.w Al Quran
selalu ditulis bilamana
beliau mendapat wahyu
karena Al Quran
diturunkan tidak secara
sekaligus tetapi secara
bertahap.
Al-Quran pada zaman
Khalifah Abu Bakar as
Sidq
SEPENINGGAL Rasulullah
SAW, istrinya `Aisyah
menyimpan beberapa
naskah catatan
(manuskrip) Al Quran,
dan pada masa
pemerintahan Abu Bakar
r.a terjadilah Jam ’ul
Quran yaitu pengumpulan
naskahnaskah atau
manuskrip Al Quran yang
susunan surah-surahnya
menurut riwayat masih
berdasarkan pada
turunnya wahyu (hasbi
tartibin nuzul).
Imam Bukhari
meriwayatkan dalam
shahihnya sebab-sebab
yang melatarbelakangi
pengumpulan naskah-
naskah Al Quran yang
terjadi pada masa Abu
Bakar yaitu Atsar yang
diriwatkan dari Zaid bin
Tsabit r.a. yang berbunyi:
“Suatu ketika Abu bakar
menemuiku untuk
menceritakan perihal
korban pada perang
Yamamah , ternyata
Umar juga bersamanya.
Abu Bakar berkata : ”
Umar menghadap
kepadaku dan
mengatakan bahwa
korban yang gugur pada
perang Yamamah sangat
banyak khususnya dari
kalangan para penghafal
Al Quran, aku khawatir
kejadian serupa akan
menimpa para penghafal
Al Quran di beberapa
tempat sehingga suatu
saat tidak akan ada lagi
sahabat yang hafal Al
Quran, menurutku sudah
saatnya engkau wahai
khalifah memerintahkan
untuk mengumpul-kan Al
Quran, lalu aku berkata
kepada Umar : ”
bagaimana mungkin kita
melakukan sesuatu yang
tidak pernah dilakukan
oleh Rasulullah s. a. w. ?”
Umar menjawab: “Demi
Allah, ini adalah sebuah
kebaikan ”. Selanjutnya
Umar selalu saja
mendesakku untuk
melakukannya sehingga
Allah melapangkan
hatiku, maka aku setuju
dengan usul umar untuk
mengumpulkan Al Quran.
Zaid berkata: Abu bakar
berkata kepadaku :
“ engkau adalah seorang
pemuda yang cerdas dan
pintar, kami tidak
meragukan hal itu, dulu
engkau menulis wahyu (Al
Quran) untuk Rasulullah
s. a. w., maka sekarang
periksa dan telitilah Al
Quran lalu kumpulkanlah
menjadi sebuah mushaf ”.
Zaid berkata : “Demi
Allah, andaikata mereka
memerintahkan aku
untuk memindah salah
satu gunung tidak akan
lebih berat dariku dan
pada memerintahkan aku
untuk mengumpulkan Al
Quran. Kemudian aku
teliti Al Quran dan
mengumpulkannya dari
pelepah kurma,
lempengan batu, dan
hafalan para sahabat
yang lain).
Kemudian Mushaf hasil
pengumpulan Zaid
tersebut disimpan oleh
Abu Bakar, peristiwa
tersebut terjadi pada
tahun 12 H. Setelah ia
wafat disimpan oleh
khalifah sesudahnya yaitu
Umar, setelah ia pun
wafat mushaf tersebut
disimpan oleh putrinya
dan sekaligus istri
Rasulullah s.a.w. yang
bernama Hafsah binti
Umar r.a.
Semua sahabat sepakat
untuk memberikan
dukungan mereka secara
penuh terhadap apa yang
telah dilakukan oleh Abu
bakar berupa
mengumpulkan Al Quran
menjadi sebuah Mushaf.
Kemudian para sahabat
membantu meneliti
naskah-naskah Al Quran
dan menulisnya kembali.
Sahabat Ali bin Abi thalib
berkomentar atas
peristiwa yang bersejarah
ini dengan mengatakan :
” Orang yang paling
berjasa terhadap Mushaf
adalah Abu bakar,
semoga ia mendapat
rahmat Allah karena
ialah yang pertama kali
mengumpulkan Al Quran,
selain itu juga Abu
bakarlah yang pertama
kali menyebut Al Quran
sebagai Mushaf).
Menurut riwayat yang
lain orang yang pertama
kali menyebut Al Quran
sebagai Mushaf adalah
sahabat Salim bin Ma ’qil
pada tahun 12 H lewat
perkataannya yaitu :
“ Kami menyebut di
negara kami untuk
naskah-naskah atau
manuskrip Al Quran yang
dikumpulkan dan di
bundel sebagai MUSHAF ”
dari perkataan salim
inilah Abu bakar
mendapat inspirasi untuk
menamakan naskah-
naskah Al Quran yang
telah dikumpulkannya
sebagai al-Mushaf as
Syarif (kumpulan naskah
yang mulya). Dalam Al
Quran sendiri kata Suhuf
(naskah ; jama ’nya
Sahaif) tersebut 8 kali,
salah satunya adalah
firman Allah QS. Al
Bayyinah (98):2 ” Yaitu
seorang Rasul utusan
Allah yang membacakan
beberapa lembaran suci.
(Al Quran )”
Al-Quran pada jaman
khalifah Umar bin Khatab
Tidak ada perkembangan
yang signifikan terkait
dengan kodifikasi Al
Quran yang dilakukan
oleh khalifah kedua ini
selain melanjutkan apa
yang telah dicapai oleh
khalifah pertama yaitu
mengemban misi untuk
menyebarkan islam dan
mensosialisasikan sumber
utama ajarannya yaitu Al
Quran pada wilayah-
wilayah daulah islamiyah
baru yang berhasil
dikuasai dengan
mengirim para sahabat
yang kredibilitas serta
kapasitas ke-Al-Quranan-
nya bisa
dipertanggungjawabkan
Diantaranya adalah
Muadz bin Jabal, `Ubadah
bin Shamith dan Abu
Darda ’.
03 September jam 20:06 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam Al-Quran pada
jaman khalifah Usman bin
`Affan
Pada masa pemerintahan
Usman bin ‘Affan terjadi
perluasan wilayah islam
di luar Jazirah arab
sehingga menyebabkan
umat islam bukan hanya
terdiri dari bangsa arab
saja (’Ajamy). Kondisi ini
tentunya memiliki
dampak positif dan
negatif.
Salah satu dampaknya
adalah ketika mereka
membaca Al Quran,
karena bahasa asli
mereka bukan bahasa
arab. Fenomena ini di
tangkap dan ditanggapi
secara cerdas oleh salah
seorang sahabat yang
juga sebagai panglima
perang pasukan muslim
yang bernama Hudzaifah
bin al-yaman.
Imam Bukhari
meriwayatkan dari Anas
r.a. bahwa suatu saat
Hudzaifah yang pada
waktu itu memimpin
pasukan muslim untuk
wilayah Syam (sekarang
syiria) mendapat misi
untuk menaklukkan
Armenia, Azerbaijan (dulu
termasuk soviet) dan Iraq
menghadap Usman dan
menyampaikan
kepadanya atas realitas
yang terjadi dimana
terdapat perbedaan
bacaan Al Quran yang
mengarah kepada
perselisihan.
Ia berkata : “wahai
usman, cobalah lihat
rakyatmu, mereka
berselisih gara-gara
bacaan Al Quran, jangan
sampai mereka terus
menerus berselisih
sehingga menyerupai
kaum yahudi dan nasrani
“ .
Lalu Usman meminta
Hafsah meminjamkan
Mushaf yang di
pegangnya untuk disalin
oleh panitia yang telah
dibentuk oleh Usman
yang anggotanya terdiri
dari para sahabat
diantaranya Zaid bin
Tsabit, Abdullah bin
Zubair, Sa ’id bin al’Ash,
Abdurrahman bin al-Haris
dan lain-lain.
Kodifikasi dan penyalinan
kembali Mushaf Al Quran
ini terjadi pada tahun 25
H, Usman berpesan
apabila terjadi perbedaan
dalam pelafalan agar
mengacu pada Logat
bahasa suku Quraisy
karena Al Quran
diturunkan dengan
gaya bahasa mereka.
Setelah panitia selesai
menyalin mushaf, mushaf
Abu bakar dikembalikan
lagi kepada Hafsah.
Selanjutnya Usman
memerintahkan untuk
membakar setiap naskah-
naskah dan manuskrip Al
Quran selain Mushaf hasil
salinannya yang
berjumlah 6 Mushaf.
Mushaf hasil salinan
tersebut dikirimkan ke
kota-kota besar yaitu
Kufah, Basrah, Mesir,
Syam dan Yaman. Usman
menyimpan satu mushaf
untuk ia simpan di
Madinah yang
belakangan dikenal
sebagai Mushaf al-Imam.
Tindakan Usman untuk
menyalin dan
menyatukan Mushaf
berhasil meredam
perselisihan dikalangan
umat islam sehingga ia
manual pujian dari umat
islam baik dari dulu
sampai sekarang
sebagaimana khalifah
pendahulunya Abu bakar
yang telah berjasa
mengumpulkan Al Quran.
Adapun Tulisan yang
dipakai oleh panitia yang
dibentuk Usman untuk
menyalin Mushaf adalah
berpegang pada Rasm
alAnbath tanpa harakat
atau Syakl (tanda baca)
dan Nuqath (titik sebagai
pembeda huruf).
Tanda Yang
Mempermudah Membaca
Al-Quran[/b]
Sampai sekarang,
setidaknya masih ada
empat mushaf yang
disinyalir adalah salinan
mushaf hasil panitia yang
diketuai oleh Zaid bin
Tsabit pada masa
khalifah Usman bin Affan.
Mushaf pertama
ditemukan di
kota Tasyqand yang
tertulis dengan Khat
Kufy. Dulu sempat
dirampas oleh kekaisaran
Rusia pada tahun 1917 M
dan disimpan di
perpustakaan Pitsgard
(sekarang St.PitersBurg)
dan umat islam dilarang
untuk melihatnya.
Pada tahun yang sama
setelah kemenangan
komunis di Rusia, Lenin
memerintahkan untuk
memindahkan Mushaf
tersebut ke kota Opa
sampai tahun 1923 M.
Tapi setelah terbentuk
Organisasi Islam di
Tasyqand para
anggotanya meminta
kepada parlemen Rusia
agar Mushaf
dikembalikan lagi
ketempat asalnya yaitu di
Tasyqand (Uzbekistan,
negara di bagian asia
tengah).
Mushaf kedua terdapat di
Museum al Husainy di
kota Kairo mesir dan
Mushaf ketiga dan
keempat terdapat di
kota Istambul Turki.
Umat islam tetap
mempertahankan
keberadaan mushaf yang
asli apa adanya.
Sampai suatu saat ketika
umat islam sudah
terdapat hampir di semua
belahan dunia yang
terdiri dari berbagai
bangsa, suku, bahasa
yang berbeda-beda
sehingga memberikan
inspirasi kepada salah
seorang sahabat Ali bin
Abi Thalib yang menjadi
khalifah pada waktu itu
yang bernama Abul-
Aswad as-Dualy untuk
membuat tanda baca
(Nuqathu I ’rab) yang
berupa tanda titik.
Atas persetujuan dari
khalifah, akhirnya ia
membuat tanda baca
tersebut dan
membubuhkannya pada
mushaf. Adapun yang
mendorong Abul-Aswad
ad-Dualy membuat tanda
titik adalah riwayat dari
Ali r.a bahwa suatu
ketika Abul-Aswad
adDualy menjumpai
seseorang yang bukan
orang arab dan baru
masuk islam membaca
kasrah pada kata
“ Warasuulihi” yang
seharusnya dibaca
“ Warasuuluhu” yang
terdapat pada QS. At-
Taubah (9) 3 sehingga
bisa merusak makna.
Abul-Aswad ad-Dualy
menggunakan titik
bundar penuh yang
berwarna merah untuk
menandai fathah, kasrah,
Dhammah, Tanwin dan
menggunakan warna
hijau untuk menandai
Hamzah. Jika suatu kata
yang ditanwin
bersambung dengan kata
berikutnya yang
berawalan huruf Halq
(idzhar) maka ia
membubuhkan tanda titik
dua horizontal seperti
“ adzabun alim” dan
membubuhkan tanda titik
dua Vertikal untuk
menandai Idgham seperti
“ ghafurrur rahim”.
Adapun yang pertama
kali membuat Tanda Titik
untuk membedakan
huruf-huruf yang sama
karakternya (nuqathu
hart) adalah Nasr bin
Ashim (W. 89 H) atas
permintaan Hajjaj bin
Yusuf as-Tsaqafy, salah
seorang gubernur pada
masa Dinasti Daulah
Umayyah (40-95 H).
Sedangkan yang pertama
kali menggunakan tanda
Fathah, Kasrah,
Dhammah, Sukun, dan
Tasydid seperti yang-kita
kenal sekarang adalah al-
Khalil bin Ahmad al-
Farahidy (W.170 H) pada
abad ke II H.
Kemudian pada masa
Khalifah Al-Makmun,
para ulama selanjutnya
berijtihad untuk semakin
mempermudah orang
untuk membaca dan
menghafal Al Quran
khususnya bagi orang
selain arab dengan
menciptakan tanda-tanda
baca tajwid yang berupa
Isymam, Rum, dan Mad.
Sebagaimana mereka
juga membuat tanda
Lingkaran Bulat sebagai
pemisah ayat dan
mencamtumkan nomor
ayat, tanda-tanda waqaf
(berhenti membaca),
ibtida (memulai
membaca), menerangkan
identitas surah di awal
setiap surah yang terdiri
dari nama, tempat turun,
jumlah ayat, dan jumlah
‘ ain.
Tanda-tanda lain yang
dibubuhkan pada tulisan
Al Quran adalah Tajzi ’
yaitu tanda pemisah
antara satu Juz dengan
yang lainnya berupa kata
Juz dan diikuti dengan
penomorannya (misalnya,
al-Juz-utsalisu: untuk juz
3) dan tanda untuk
menunjukkan isi yang
berupa seperempat,
seperlima, sepersepuluh,
setengah Juz dan Juz itu
sendiri.
Sebelum ditemukan
mesin cetak, Al Quran
disalin dan diperbanyak
dari mushaf utsmani
dengan cara tulisan
tangan. Keadaan ini
berlangsung sampai abad
ke16 M. Ketika Eropa
menemukan mesin cetak
yang dapat digerakkan
(dipisah-pisahkan)
dicetaklah Al-Qur ’an
untuk pertama kali di
Hamburg, Jerman pada
tahun 1694 M.
Naskah tersebut
sepenuhnya dilengkapi
dengan tanda baca.
Adanya mesin cetak ini
semakin mempermudah
umat islam
memperbanyak mushaf Al
Quran. Mushaf Al Quran
yang pertama kali
dicetak oleh kalangan
umat islam sendiri adalah
mushaf edisi Malay
Usman yang dicetak pada
tahun 1787 dan
diterbitkan di St.
Pitersburg Rusia.
Kemudian diikuti oleh
percetakan lainnya,
seperti di
Kazan pada tahun 1828,
Persia Iran tahun 1838
dan Istambul tahun 1877.
Pada tahun 1858, seorang
Orientalis Jerman ,
Fluegel, menerbitkan Al
Quran yang dilengkapi
dengan pedoman yang
amat bermanfaat.
Sayangnya, terbitan Al
Quran yang dikenal
dengan edisi Fluegel ini
ternyata mengandung
cacat yang fatal karena
sistem penomoran ayat
tidak sesuai dengan
sistem yang digunakan
dalam mushaf standar.
Mulai Abad ke-20,
pencetakan Al Quran
dilakukan umat islam
sendiri. Pencetakannya
mendapat pengawasan
ketat dari para Ulama
untuk menghindari
timbulnya kesalahan
cetak.
Cetakan Al Quran yang
banyak dipergunakan di
dunia islam dewasa ini
adalah cetakan Mesir
yang juga dikenal dengan
edisi Raja Fuad karena
dialah yang
memprakarsainya. Edisi
ini ditulis berdasarkan
Qiraat Ashim riwayat
Hafs dan pertama kali
diterbitkan di Kairo pada
tahun 1344 H/ 1925 M.
Selanjutnya, pada tahun
1947 M untuk pertama
kalinya Al Quran dicetak
dengan tekhnik cetak
offset yang canggih dan
dengan memakai
huruf-huruf yang indah.
Pencetakan ini dilakukan
di Turki atas prakarsa
seorang ahli kaligrafi
turki yang terkemuka
Said Nursi.
03 September jam 20:07 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam Keaslian yang tak
dapat disangsikan lagi
telah memberi
kepada Qur-an suatu
kedudukan istimewa di
antara kitab-kitab
Suci, kedudukan itu
khusus bagi Qur-an, dan
tidak dibarengi
oleh Perjanjian lama dan
Perjanjian Baru. Dalam
dua bagian
pertama daripada buku
ini kita telah menjelaskan
perubahan-perubahan
yang terjadi dalam
Perjanjian Lama dan
empat Injil, sebelum Bibel
dapat kita baca dalam
keadaannya
sekarang. Qur-an tidak
begitu halnya, oleh
karena Qur-an
telah ditetapkan pada
zaman Nabi Muhammad,
dan kita akan
lihat bagaimana caranya
Qur-an itu ditetapkan
Perbedaan-perbedaan
yang memisahkan wahyu
terakhir daripada
kedua wahyu
sebelumnya, pada
pokoknya tidak terletak
dalam
"waktu turunnya" seperti
yang sering ditekankan
oleh
beberapa pengarang
yang tidak
memperhatikan hal-hal
yang
terjadi sebelum kitab suci
Yahudi Kristen
dibukukan, dan
hal-hal yang terjadi
sebelum pembukuan Qur-
an, mereka juga
tidak memperhatikan
bagaimana Qur-an itu
diwahyukan kepada
Nabi Muhammad.
Orang mengatakan
bahwa teks yang ada
pada abad VII Masehi
mempunyai kemungkinan
yang lebih besar untuk
dapat sampai
kepada kita tanpa
perubahan daripada teks
yang jauh lebih
tua daripada Qur-an
dengan perbedaan 15
abad. Kata-kata
tersebut adalah tepat,
akan tetapi tidak
memberi keterangan
yang cukup. Tetapi di
samping itu, keterangan
tersebut
diberikan untuk memberi
alasan kepada
perubahan-perubahan
teks kitab suci Yahudi
Kristen yang terjadi
selama
berabad-abad, dan bukan
untuk menekankan
bahwa teks Qur-an
itu karena lebih baru
daripada teks kitab suci
Yahudi
Kristen, lebih sedikit
mengandung
kemungkinan untuk
dirubah
oleh manusia.
Bagi Perjanjian Lama,
yang menjadi sebab
kekeliruan dan
kontradiksi yang
terdapat di dalamnya
adalah: banyaknya
pengarang sesuatu
riwayat, dan seringnya
teks-teks tersebut
ditinjau kembali dalam
periode-periode sebelum
lahirnya Nabi
Isa; mengenai empat Injil
yang tidak ada orang
dapat
mengatakan bahwa
kitab-kitab itu
mengandung kata-kata
Yesus
secara setia dan jujur
atau mengandung
riwayat tentang
perbuatan-perbuatan
yang sesuai dengan
realitas yang
sungguh-sungguh terjadi,
kita sudah melihat bahwa
redaksi-redaksi yang
bertubi-tubi
menyebabkan bahwa
teks-teks tersebut
kehilangan autentisitas.
Selain daripada
itu para penulis Injil tidak
merupakan saksi mata
terhadap
kehidupan Yesus.
Selain daripada itu kita
harus membedakan
antara Qur-an,
Wahyu tertulis, daripada
Hadits jami' kumpulan
riwayat,
tentang perbuatan dan
kata-kata Nabi
Muhammad. Beberapa
sahabat Nabi telah mulai
mengumpulkannya
segera setelah Nabi
Muhammad wafat. Dalam
hal ini, dapat saja terjadi
kesalahan-kesalahan
yang bersifat
kemanusiaan karena para
penghimpun Hadits
adalah manusia-manusia
biasa; akan tetapi
kumpulan-kumpulan
mereka itu kemudian
disoroti dengan tajam
oleh kritik yang sangat
serius, sehingga dalam
prakteknya,
orang lebih percaya
kepada dokumen yang
dikumpulkan orang,
lama setelah Nabi
Muhammad wafat.
Sebagaimana halnya
dengan teks-teks Injil,
Hadits mempunyai
autentisitas yang
berlainan, dari satu
pengumpul kepada
pengumpul yang lain.
Sebagaimana hal Injil, tak
ada sesuatu
Injil yang ditulis pada
waktu Yesus masih hidup
(karena
semuanya ditulis lama
sesudah Nabi Isa
meninggal) maka
kumpulan Hadits juga
dibukukan setelah (Nabi
Muhammad
meninggal).
Bagi Qur-an, keadaannya
berlainan. Teks Qur-an
atau Wahyu
itu dihafalkan oleh Nabi
dan para sahabatnya,
langsung
setelah wahyu diterima,
dan ditulis oleh beberapa
sahabat-sahabatnya yang
ditentukannya. Jadi, dari
permulaan,
Qur-an mempunyai dua
unsur autentisitas
tersebut, yang tidak
dimiliki Injil. Hal ini
berlangsung sampai
wafatnya Nabi
Muhammad. Penghafalan
Qur-an pada zaman
manusia sedikit
sekali yang dapat
menulis, memberikan
kelebihan jaminan yang
sangat besar pada waktu
pembukuan Qur-an
secara definitif,
dan disertai beberapa
regu untuk mengawasi
pembukuan
tersebut.
Wahyu Qur-an telah
disampaikan kepada Nabi
Muhammad oleh
malaikat Jibril, sedikit
demi sedikit selama lebih
dari 20
tahun. Wahyu yang
pertama adalah yang
sekarang merupakan
ayat-ayat pertama
daripada surat nomor 96.
Kemudian Wahyu
itu berhenti selama 3
tahun, dan mulai lagi
berdatangan
selama 20 tahun sampai
wafatnya Nabi
Muhammad pada tahun
632
M.; dapat dikatakan
bahwa turunnya Wahyu
berlangsung 10
tahun sebelum Hijrah
(622) dan 10 tahun lagi
sesudah Hijrah.
Wahyu yang pertama
diterima Nabi
Muhammad adalah
sebagai
berikut (Surat 96 ayat
1-5):
"Bacalah dengan
{menyebut) nama
Tuhanmu yang
menciptakan.
Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal
darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang
paling pemurah. Yang
mengajar (manusia)
dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya."
Professor Hamidullah
mengatakan dalam
Pengantar yang dimuat
dalam terjemahan Qur-an
bahwa isi dari wahyu
pertama adalah
"penghargaan terhadap
kalam sebagai alat untuk
pengetahuan
manusia" dan dengan
begitu maka menjadi
jelas bagi kita
"perhatian Nabi
Muhammad untuk
menjaga kelangsungan
Qur-an
dengan tulisan."
Beberapa teks
menunjukkan secara
formal bahwa lama
sebelum
Nabi Muhammad
meninggalkan Mekah
untuk hijrah ke Madinah,
ayat-ayat Quran yang
telah diwahyukan kepada
Nabi Muhammad
sudah dituliskan. Kita
nanti akan mengetahui
bahwa Qur-an
membuktikan hal
tersebut.
Kita mengetahui bahwa
Nabi Muhammad dan
pengikut-pengikutnya
biasa menghafal teks-
teks yang telah
diwahyukan. Adalah
tidak masuk akal jika
Qur-an menyebutkan hal-
hal yang tidak
sesuai dengan realitas,
karena hal-hal itu mudah
dikontrol
disekeliling Muhammad
yakni oleh sahabat-
sahabat yang
mencatat Wahyu
tersebut.
Empat Surat Makiyah
(diturunkan sebelum
Hijrah) memberi
gambaran tentang
redaksi Qur-an sebelum
Nabi Muhammad
meninggalkan Mekah
pada tahun 622 M.
Surat 80 ayat 11-1 6:
"Sekali-kali jangan
(demikian), sesungguhnya
ajaran-ajaran
Tuhan itu adalah
peringatan, maka barang
siapa yang
menghendaki, tentulah ia
memperhatikan. Di dalam
k├Átab-kitab
yang dimuliakan, yang
ditinggikan, lagi
disucikan. Di tangan
para penulis, yang mulia
lagi berbakti."
Yusuf Ali, dalam Terjemah
Qur-an yang ditulisnya
pada tahun
1936 mengatakan bahwa
pada waktu Surat
tersebut diwahyukan
sudah ada 42 atau 45
Surat yang beredar di
antara kaum
muslimin di Mekah
(Jumlah Surat-surat
dalam Qur-an adalah
114 Surat).
"Bahkan yang didustakan
mereka itu ialah al Qur-
an yang
mulia yang tersimpan
dalam Lauhul Mahfudz."
"Sesungguhnya Al Qur-an
ini adalah bacaan yang
sangat mulia
(yang terdapat) pada
kitab yang terpelihara
(Lauhul
Makfudz). Tidak
menyentuhnya kecuali
orang-orang yang
disucikan. Diturunkan
dari Tuhan semesta
alam."
"Dan mereka berkata
(lagi). Dongengan-
dongengan orang-orang
dahulu dimintanya supaya
dituliskan, maka
dibacakanlah
dongengan itu kepadanya
setiap pagi dan petang."
Ayat tersebut
menyinggung dakwaan
para lawan Nabi
Muhammad
yang menuduh bahwa
Muhammad adalah Nabi
palsu, mereka
menggambarkan bahwa
ada orang yang
mendiktekan sejarah
kuno
kepada Nabi Muhammad
dan Muhammad
menyuruh
sahabat-sahabatnya
untuk menulisnya.
Ayat tersebut
menyebutkan:
"Pencatatan dengan
tulisan" yang
didakwakan kepada
Muhammad oleh lawan-
lawannya.
Suatu Surat yang
diturunkan sesudah
Hijrah,
03 September jam 20:10 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam 2.kata kami sudah
kami jelaskan pada
pertanyaaan yang sudah
lalu, silahkan menyimak
kebabawah
03 September jam 20:12 · Suka
Tanya Jawab Masalah
Islam 3.Surat al-Fatihah
yang merupakan surat
pertama dalam al-Quran
dan terdiri dari 7 ayat
adalah masuk kelompok
surat Makkiyyah, yakni
surat yang diturunkan
saat Nabi Muhammad di
kota Mekah.
Dinamakan al-Fatihah,
lantaran letaknya berada
pada urutan pertama dari
114 surat dalam al-Quran.
Para ulama bersepakat
bahwa surat yang
diturunkan lengkap ini
merupakan intisari dari
seluruh kandungan al-
Quran yang kemudian
dirinci oleh surat-surat
sesudahnya.
Tema-tema besar al-
Quran seperti masalah
tauhid, keimanan, janji
dan kabar gembira bagi
orang beriman, ancaman
dan peringatan bagi
orang-orang kafir serta
pelaku kejahatan,
tentang ibadah, kisah
orang-orang yang
beruntung karena taat
kepada Allah dan
sengsara karena
mengingkari-Nya, semua
itu tercermin dalam
ekstrak surat al-Fatihah.
Berikut terjemah surat
pembuka itu (1) Dengan
nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha
Penyayang (2) Segala puji
bagi Allah, Tuhan
semesta alam (3) Maha
Pemurah lagi Maha
Penyayang (4) Yang
menguasai hari
pemabalasan (5) Hanya
kepada Engkaulah kami
menyembah dan hanya
kepada Engkaulah kami
memohon pertolongan (6)
Tunjukilah kami ke jalan
yang lurus (7) Yaitu jalan
orang-orang yang Engkau
anugerahkan nikmat
kepada mereka, bukan
jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula
jalan mereka yang sesat.
Menurut al-Qurtubhi
(bukan pengamat migas
lho), surat al-Fatihah
memiliki 12 nama, yakni
al-salah (salat, doa),
fatihatul kitab (induk
alkitab), ummul kitab
(induk al-Quran), al-
matsani (berulang-ulang),
al-quranul ‘azhim (al-
Quran yang agung), asy-
syifa (penawar, obat,
penyembuh), ar-ruqyah
(rukyah), al-asas
(fondasi), al-wafiyah
(yang menyeluruh,
komprehensif), al-kafiyah
(yang sempurna) dan al-
fatihah (pembuka).
Mengenai asbabun nuzul
(sebab-sebab turunnya)
surat al-Fatihah,
sebagaimana diriwatkan
oleh Ali bin Abi Tholib
(mantu Rosulullah
Muhammad saw: “Surat
al-Fatihah turun di
Mekah dari
perbendaharaan di
bawah ‘arsy’”
Riwayat lain menyatakan,
Amr bin Shalih bertutur
kepada kami: “Ayahku
bertutur kepadaku, dari
al-Kalbi, dari Abu Salih,
dari Ibnu Abbas, ia
berkata: “Nabi berdiri di
Mekah, lalu beliau
membaca, Dengan
menyebut nama Allah
yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang, Segala
puji bagi Allah Tuhan
Semesta Alam. Kemudian
orang-orang Quraisy
mengatakan, “Semoga
Allah menghancurkan
mulutmu (atau kalimat
senada). ”
Dari Abu Hurairah, ia
berkata, “Rosulullah saw.
bersabda saat Ubai bin
Ka ’ab membacakan
Ummul Quran pada
beliau, “Demi zat yang
jiwaku ada di tangan-
Nya, Allah tidak
menurunkan semisal
surat ini di dalam Taurat,
Injil, Zabur dan al-Quran.
Sesungguhnya surat ini
adalah as-sab’ul matsani
(tujuh kalimat pujian) dan
al-Quran al- ’Azhim yang
diberikan kepadaku.”
Lantas apa saja
keutamaan-keutamaan
surat al-Fatihah? Paling
tidak ada lima
keutamaan surat
pembuka ini sebagaimana
dikatakan Rosulullah saw.
Pertama, al-Fatihah
adalah surat yang paling
utama. Dari Anas bin
Malik ra. berkata:
Tatkala Nabi saw dalam
sebuah perjalanan lalu
turun dari kendaraannya,
turun pula seorang lelaki
di samping beliau. Lalu
Nabi menoleh ke arah
lelaki tersebut kemudian
berkata: “Maukah kamu
aku beritahukan surat
yang paling utama di
dalam al-Quran? Anas
berkata: Kemudian Nabi
saw membacakan ayat
‘ segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam.’
Kedua, al-Fatihah dapat
digunakan untuk
meruqyah. Dari Abi Sa ’id
al-Khudry dan Abu
Hurairah ra (keduanya)
berkata: “Rosulullah saw
bersabda, surat pembuka
al-Kitab dapat
menyembuhkan dan
menawarkan racun. ”
Ketiga, mengucapkan
amin akan menghapus
dosa-dosa. Dari Abu
Hurairah ra.,
Sesungguhnya Nabi saw
bersabda: “Jika imam
mengucapkan ‘ghoiril
magdhubi ‘alaihim
waladh dhallin’, maka
sambutlah dengan
ucapan ‘amin’, karena
para malaikatpun
mengucapkan ‘amin’ dan
sesungguhnya imampun
mengucapkan ‘amin’
pula. Maka barang siapa
yang ucapan ‘amin’-nya
sesuai dengan ucapan
malaikat, akan diampuni
dosa-dosanya yang
terdahulu.
Keempat, tanpa al-
Fatihah salat akan tidak
sempurna. Dari A’isyah
ra. berkata: Aku
mendengar Rosulullah
saw. bersabda: “Setiap
salat yang tidak
membaca surat al-
Fatihah maka salatnya
tergolong khaddaj (tidak
sempurna). ”
Kelima, al-Fatihah adalah
induk al-Quran. Dari Abu
Hurairah ra., Rosulullah
bersabda: Induk al-Quran
adalah tujuh ayat yang
berulang dan al-Quran
yang agung.”
Bey Arifin, pengarang
buku ‘Samudera al-
Fatihah’ menyatakan,
surat ini tak hanya
lengkap, tapi juga
komprehensif. Sehingga
pantas bila dikatakan
surat ini sebagai
ekstraknya al-Quran.
Dikatakan ekstrak,
karena di dalamnya ada
ulasan lengkap yang
detilnya bertebaran pada
113 surat lannya.
Kelengkapan itu
tercermin dari penjelasan
soal Allah dan sifatnya,
manusia dengan segala
sifatnya, dan tempat
manusia atas segala
pilihan-pilihan sifat itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar